Cintamu Berdurasi

Pagi itu, kutatap matamu. Ada yang berbeda. Kita tak saling bicara, takpula saling bertegur sapa. Sesekali saling menatap namun kembali terdiam.

"Ini surat untukmu." Ucapku, datar.

"hmmm, baiklah akan kubaca. Nanti." kau menjawab begitu dingin.

Kuputuskan untuk pergi saja dari hadapanmu. Jelas, kehadiranku tak sama sekali kau inginkan. Harusya aku faham dari caramu menatapku pagi ini, dari caramu berbicara.

"Aku pamit." Ucapku. Beranjak dari kursi panjang, berwarna coklat tua dengan satu meja kecil di depan kita.

Kau sama sekali tak berniat mencegahku, bahkan untuk sekedar menatapku sebentar saja. Ya, aku tahu bahwa kepergianku adalah satu satunya yang kau inginkan bukan.

*****

Pesan masuk berkali-kali, lampu notifikasi handphoneku berkedip berkali-kali. Aku tentu mengabaikan sejenak pesan-pesan tersebut, karena malam ini persiapan fashion show untuk gaun hasil rancanganku harus selesai.

Tapi hati dan tanganku ini sialan, tak mau bekerjasama. Aku duduk, menghepaskan badan di atas sofa bewarna merah maron di pojok ruangan.

Aku tahu, Ray pasti mengkhawatirkan ku karena sudah sepekan ini aku begitu sibuk dan komunikasi kami juga jadi imbasnya.

Buru-buru kubuka pesan whatsapp yang masuk, satu persatu ku baca. Kau tahu apa isinya?

*****

"Asmara, tunggu." Suaramu berat, meski terdengar terpaksa. Tapi aku bahagia. Kau akhirnya mencegahku pergi.

Aku berhenti.

"Kita, tidak ada waktu untuk meneruskan semuanya." Belum sempat aku menoleh ke arahmu. Tapi kau sudah melontarkan satu kalimat yang membuat kakiku ngilu untuk lama-lama berdiri.

"Lantas, bagimu waktu macam apa yang bisa kau gunakan untuk membuang banyak kata hanya untuk merekap seluruh perhatianmu padaku? Kau tidak pernah menjelaskan semuanya padaku Ray. Termasuk perihal ini."

"Bukan begitu Asmara. Kau tak mengerti."

"Ya aku memang tidak mengerti, bawa cintamu itu berdurasi." aku menghentikan ucapanku, dan membalikan tubuh, meninggalkan laki-laki yang satu tahun terakhir ini menemani hari hariku. Meski kami berteman dekat sejak masih di bangku SMA.

Kehadiran sudah cukup lama , aku yang tak pernah tahu. Ray, selalu ada saat aku terjatuh, bahkan saat aku menangis sejadi-jadinya ketika bisnisku di curangi oleh tunanganku sendiri. Hingga akhirnya, dia yang membuatku bangkit. Ku kira, dia benar membutuhkanku, ku kira dia benar menerimaku tapi kau tahu cintanya berdurasi. Bertahun lama dia memendam segalanya untukku tapi aku abai. Aku sibuk dengan duniaku sendiri. Aku tahu, dia memang pantas memilih orang lain sebagai penggantiku dalam hidupnya.

Berbahagialah Ray, untukku.



Pic: Pinterest

.......

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother's Day is Everyday

Yuk Gabung Komunitas Ikatan Kata

Terimakasih Malang