Titik Jenuh
"Telah sampai pada titik yang tak pernah aku mau. Ya, titik jenuh." Tangisku pecah di ujung percakapan dengan Ibuku. Tubuhku, kupaksakan bangun dari tidur seharian. Badan lemasku, ku usahakan untuk kuat dan aku tak mampu. Aku tertahan pintu lemari untuk tidak benar-benar jatuh. Ya, kali ini aku mengeluh banyak hal. Meski aku tidak berucap apapun tapi tangisku yang tiba tiba pecah cukup menggambarkan apa yang aku rasakan. "Bu, aku capek. Jenuh" Hanya itu yang keluar dari bibirku. Tanganku meremas-remas ujung baju yang kukenakan. Aku ingin kembali menjadi aku yang belasan tahun lalu. Aku ingin kembali menjadi anak Ibu dan Bapak yang merengek nangis minta diantar ke sekolah meski hujan. Aku ingin menjadi anak Ibu dan Bapak yang tertidur pulas di depan TV dan diangkat ke tempat tidur. Atau sekedar bermainan di samping rumah , tertawa lepas. Hiruk pikuk kehidupan dewasa ini telah menguras banyak hal dalam tubuh ringkihku. Tak ada satupun yang memahami, kecuali aku dan Pe...