Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Titik Jenuh

"Telah sampai pada titik yang tak pernah aku mau. Ya, titik jenuh." Tangisku pecah di ujung percakapan dengan Ibuku. Tubuhku, kupaksakan bangun dari tidur seharian. Badan lemasku, ku usahakan untuk kuat dan aku tak mampu. Aku tertahan pintu lemari untuk tidak benar-benar jatuh. Ya, kali ini aku mengeluh banyak hal. Meski aku tidak berucap apapun tapi tangisku yang tiba tiba pecah cukup menggambarkan apa yang aku rasakan. "Bu, aku capek. Jenuh" Hanya itu yang keluar dari bibirku. Tanganku meremas-remas ujung baju yang kukenakan. Aku ingin kembali menjadi aku yang belasan tahun lalu. Aku ingin kembali menjadi anak Ibu dan Bapak yang merengek nangis minta diantar ke sekolah meski hujan. Aku ingin menjadi anak Ibu dan Bapak yang tertidur pulas di depan TV dan diangkat ke tempat tidur. Atau sekedar bermainan di samping rumah , tertawa lepas. Hiruk pikuk kehidupan dewasa ini telah menguras banyak hal dalam tubuh ringkihku. Tak ada satupun yang memahami, kecuali aku dan Pe...

Review Lagu : Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.

Gambar
Pic: Pinterest Saat aku menuliskan, kalimat perkalimat ini, jam menunjukan pukul 22.23 malam. Kebiasaan tidur cukup larut ini kembali kugemari semenjak setahun belakangan. Bukan insomnia tapi memang, entahlah. Yah malam ini saat aku menulis tulisan ini aku tengah menikmati lagu Banda Neira "Yang Patah Tumbuh Hilang Berganti". Sudah 3 hari ini playlist musicku selalu lagu ini. Berulang ulang. Tanpa bosan. Lagu ini seperti memberi energi tersendiri untuk dinikmati. Alih-alihnya aku mau mereview lagu ini. Alunan nadanya mendayu diiringi suara merdu sang penyanyi. Grup band yang berasal dari Maluku Utara ini, berhasil menciptakan lantunan yang syahdu dinikmati sambil menikmati sepotong roti dan segelas kopi [bisa teh atau susu] di pagi hari. Atau sekedar menikmati senja. Lagu 'Yang Patah Tumbuh Hilang berganti' ini menyuguhkan beberapa kalimat yang menurutku bisa kita renungkan saat dalam keadaan patah. 🍀 Bait awal adalah meski saat tubuh tersungkur, berselimut debu diha...

Bagian dari sebuah buku (1)~ Hijrah Ekstrim

Gambar
Pic: Kamera diri sendiri Judul :Hijrah Ekstrim Penulis :Mirani Mauliza Sebenarnya ini bukan resensi buku, sekedar review buku yang minggu lalu sempat aku baca dan pinjam di @planetilmu. Buku dengan Co writer Sofie Beatrix dan Febrianti Almeera ini diangkat dari kisah nyata. Pertama baca, aku sedikit merasa bosan. Tapi karena tanggung jawab menuntaskan bacaan akhirnya aku lanjutkan halaman perhalaman dan diluar dugaan aku semakin penasaran. (Yang ini, masih beratan baca buku terjemahan 😂). Alhasil buku terselesaikan. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan hidup seorang Mirani. Pesan-pesan yang disampaikan begitu luar biasa. Beberapa yang bisa aku petik : 1. Setelah baca, aku manggut manggut mikir. Iya, hidup ini selalu ada feedback. Apa yang kita lakukan akan selalu kita tuai. Baik ya nuainya baik, begitu sebaliknya. 2. Penerimaan. Yah lagi lagi penerimaan. Perjalanan kisah cinta Mauliza mengabarkan bahwa penerimaan itu penting. Kalau tidak sabar dan tulus, mana bisa. D...

Arti Bertahan

Gambar
Pada akhirnya yang terlihat bahagia belum tentu sebahagia yang terlihat, begitu sebaliknya. Sore itu jam menunjukan pukul 16.00, aku menyempatkan diri berkunjung ke Perpustakaan kampus tempat kubekerja. Tiba-tiba ada seorang mahasiswa bertanya perihal dosen padaku. Setelah ku jawab akhirnya, pelan-pelan kubuka obrolan. " Bapak, asli Kalimantan?" Tanyaku. Memanggil mahasiswa di tempatku bekerja dengan sebutan Bapak, sangat lah lumrah karena beberapa usia jauh sekali di atasku. " Bukan bu, saya aslinya Jawa Barat." Beliau menjawab "Jauh ya pak, gimana bisa sampai Kalimantan, transmigrasi atau gimana" Entahlah, tapi kali ini pertanyaan kepoku mulai keluar " Bukan, niatnya nyari kerja ."Beliau menjawab dan menjelaskan kenapa akhirnya bisa sampai ke Kalimantan. Waktu itu, aku tidak begitu ingat tahun berapa beliau pergi ke kota khatulistiwa ini, yang pasti aku SD waktu itu. Bapak ini, dulu pernah jadi pengusaha bakso saat masih di Jawa Barat, punya ba...