Terimakasih Malang

Postingann kali ini, lebih tepatnya mirip curhat sayalah. Tapi nggak apa-apa, semoga sahabat-sahabat semua bisa mengambil hikmahnya :)

tumblr_n8gdubtgyd1tornwmo1_500

Ilustrasi airplaneswishes.tumblr.com

60 bulan , ribuan hari, serta ratusan jam yang lalu, rasanya saya masih bisa merasakan segarnya udara dan hawa dinginnya tempat itu di akhir-akhir bulan agustus seperti ini.

Bicara tentang 60 bulan, ribuan hari, serta ratusan jam yang lalu mereka semua adalah media waktu yang membentuk kenangan, kebahagian serta pembelajaran yang begitu berarti dalam rekaman hidup saya.

Malang, kota yang menjadi wadah bagi 60 bulan, ribuan hari, serta ratusan jam yang saya lalui. Kota yang dulu, dulu sekali tidak pernah terlintas untuk saya pijaki. Di Kota Bunga itulah saya banyak berproses, berkenalan serta belajar.

Nampaknya kata-kata ini sangat pas untuk suasana yang saya lewati saat ini
“Bahwa setiap pertemuan pastilah ada perpisahan”

Selekat apapun kita maka pasti akan bertemu jua dengan sebuah perpisahan.

Sedikit flashback

Keputusan untuk kembali ke Kampung Halaman, terbesit sejak satu bulan yang lalu. Awalnya,saya memutuskan untuk pulang ke Kalimantan tepat awal Oktober, karena saya mau hadir dinikahan teman-teman dulu dan masih harus mengurus beberapa hal.

Namun setelah berdiskusi panjang kali lebar, kotak, hingga kubus dengan orangtua hingga akhirya keputusan pulang dimajukan sebelum bulan September. Dan sore 09 Agustus lalu, saya langsung check tiket via traveloka.com
Saya sempat berpikir, “Mana ada tiket murah, kalau mendadak begini.”

Tapi ketika saya buka, ternyata salah satu maskapai penerbangan memberikan harga yang cukup miring. Miring banget malah. Jadilah saya pulang dihari ini (Selasa, 30 Agustus 2016). Doa orangtua makbul :).

Saya ceritakan sedikit, sedikit saja. Sebelumnya saya adalah orang yang keukeh bilang bahwa segala yang berhubung dengan yang namanya mimpi hanya bisa diselesaikan di kota ini. That is wrong. Siapa saya? Saya hanya makhluk yang terlampau sombong. Saya lupa bahwa satu-satunya penentu dari setiap rencana hanya Allah. Dan saya sangat yakin di manapun kaki kita berpijak, selama cita-cita kita karena Tuhan pasti akan selalu ada jalan.

Diam-diam saya mulai menyadari di sana [Baca: Kampung halaman] lebih membutuhkan segenap pikiran dan tenaga saya. Cukuplah sudah kota ini terpenuhi tangan-tangan berkompenten. Dan saya pulang bukanlah untuk meletakkan diri pada zona nyaman.

Sejak check in hingga take off saya sudah membayangkan sebuah kabupaten yang terletak hampir di ujung Provinsi Kalimantan Barat, sebuah kabupaten yang tak banyak dikenal orang [Kamu mesti ke sana, iya kamu :) ].

Kabupaten nan jauh itu merupakan tempat di mana saya dilahirkan 22 tahun lalu dan bernama SINTANG. Perlu waktu kurang lebih 10-11 jam dari Bandara Supadio Pontianak untuk bisa sampai di rumah dan bisa segera menikmati masakan Mamak [Laper Pemirsa :)]. Rasanya sudah tidak sabar, mencium aroma sungai Kapuas dan mendengar logat bicara khas Suku Melayu. ≈ Yang baca kudu lihat google maps!

Ah kepulangan kali ini terasa berbeda karena setelah hampir 3 tahun tak pernah menginjakkan kaki di KALBAR. Kalian pasti bisa membayangkannya tanpa perlu dijelaskan. Rindulah. [Anak rantau mana suaranya].

Ada cerita mengharukan mendekati detik-detik kepulangan kemarin, saya sempat tanya ke Mamak via telpon
“Mak, nak nitip ape dari Malang?”

Jawaban Mamak benar-benar mengharukan.
“Tak adelah, biselah Mamak beli di sinik jak. Yang paling penting tu Mamak bise lihat kau pulang. Sudah Rindu. A.. cepatlah pulang ye.”

Selepas percakapan itu, saya benar-benar yakin dengan keputusan yang saya buat. Bismillah.

Maafkan saye ye Mak. Maafkan sudah lama tak pulang. [Baca dengan logat Melayu ya].

Inilah perjalanan, menurut saya ada banyak hal yang harus kita putuskan dengan cara  mengambil keputusan yang besar. Karena di sinilah titik di mana kita belajar, belajar mengambil langkah setelah huruf abjad pertama ternyata berefek kecil dalam hidup kita.

Well hingga hari ini, di atas ketinggian ribuan kaki, saya sudah duduk manis dengan safety belt dan memandang ke arah luar dari kaca burung besi yang dengan gagah menabrak susunan manis awan-awan. Di hati saya tetap menyelip kata ‘SAMPAI JUMPA LAGI MALANG’. Dan itu artinya, kita nampaknya akan berjumpa lagi ‘MALANG’.

Sekedar FootNote:

*)Buat teman yang berstatus PERANTAU jangan lupa untuk PULANG ke Kampung Halaman ya. *)Terimakasih sahabat-sahabat sudah mau berkunjung ke kediaman [baca:kos] sampai nginep-nginep *) Mohon maaf buat sahabat-sahabat yang lain kalau ada janji yang belum dipenuhi. You all are special in my life. Semoga selalu mendoakan dalam ukhuwah :)

 

 

 

Komentar

  1. Back to our village It doesn't mean our expedition is Over.
    Instead that is a new game for us. With new knowledge and responsibility that what we get beyond our imagination. we gotta show it, all of experiences, that we've been a more different human than before. So, once more That's A NEW GAME. Nice for knowing U miss han. Keep SPIRIT unonya πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

    I'm still looking forward to ur story.πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

    BalasHapus
  2. Salam anak RANTAU....
    kepulanganmu adalah awal dri perjuangan...

    Fighting dek....

    #Finding billion experiences in our hometown.

    BalasHapus
  3. Usaha tidak akan mengkhianati hasil beb, tetap semangat!

    BalasHapus
  4. Nice artikel πŸ˜€

    BalasHapus
  5. ya Bei. Miss you dan saling mendoakan yaa

    BalasHapus
  6. ya Mbak, Fighting. Semangat terus juga Mbak cantik

    BalasHapus
  7. πŸ‘πŸ‘Šsepertinya saya juga harus pulang kampung han..sepertinya saya sudah keterlaluan lama meninggalkan orang tua saya. Saya sibuk di malang mencari uang sedangkan saya lupa bagaimana perasaan mereka.

    15 September 2011-08 desember 2017 masih di malang Pulang kehadiran sambang orang tua 1 tahun sekali

    BalasHapus
  8. kadang pulang bisa menjadi alternatif paling jitu untuk menghilangkan penat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother's Day is Everyday

Yuk Gabung Komunitas Ikatan Kata