Cintamu Berdurasi
Pagi itu, kutatap matamu. Ada yang berbeda. Kita tak saling bicara, takpula saling bertegur sapa. Sesekali saling menatap namun kembali terdiam. "Ini surat untukmu." Ucapku, datar. "hmmm, baiklah akan kubaca. Nanti." kau menjawab begitu dingin. Kuputuskan untuk pergi saja dari hadapanmu. Jelas, kehadiranku tak sama sekali kau inginkan. Harusya aku faham dari caramu menatapku pagi ini, dari caramu berbicara. "Aku pamit." Ucapku. Beranjak dari kursi panjang, berwarna coklat tua dengan satu meja kecil di depan kita. Kau sama sekali tak berniat mencegahku, bahkan untuk sekedar menatapku sebentar saja. Ya, aku tahu bahwa kepergianku adalah satu satunya yang kau inginkan bukan. ***** Pesan masuk berkali-kali, lampu notifikasi handphoneku berkedip berkali-kali. Aku tentu mengabaikan sejenak pesan-pesan tersebut, karena malam ini persiapan fashion show untuk gaun hasil rancanganku harus selesai. Tapi hati dan tanganku ini sialan, tak mau bekerjasama. Aku duduk, me...