Khatulistiwa1: Kecamatan Dedai itu Dimana Mbak?

Dulu, waktu pertama kali menyodorkan kertas administrasi di kampus tempat aku nimba ilmu (bayangin aja kayak nimba air πŸ˜‚), petugas bertanya kaget.
"Kecamatan Dedai, Desa Terusan itu dimana mbak?" Dengan nada penasaran dan sambil terus membolak balik kertas milikku tentunya.
.
Ku jawab santai. "Kecamatan, di pelosok Kalimantan Barat Bu."
Meski, dibilang akses ke rumahku cukup gampang dari kota kabupaten ketimbang beberapa desa lainnya. Tapi mungkin saja nama desa itu terdengar asing di telinga ibu tersebut. Diriku harap maklum.

Hal serupa juga pernah terjadi, saat aku pergi naik taxi online di Ibu kota (read: Jakarta). Alih-alih menikmati perjalan dari Jakarta Timur ke Jakarta Selatan, Bapak supir justru penasaran dengan Kalimantan.

Setelah menjawab berbagai macam pertanyaan beliau, percakapan kami di tutup dengan hamdalah πŸ˜‚, eh bukan, ditutup dengan perkataan Pak supir. "Neng, pacarnya susah dong kalau mau ngelamar ke sana. Perjalanannya jauh amat."

"Namanya juga cinta pak, kudu berjuang." sambil ketawa diriku. (dalam hati ngomong, "Ada topik yang lain nggak sih ini." πŸ€—)

.

Iya, nama kecamatanku 'Dedai' ini mana pernah muncul di TV nasional katakan lah RCTI . Bahkan akses dari desaku menuju kecamatan harus naik perahu. Aku sendiri bisa dihitung jari ke sana. Pertama kali yang amat sangat aku ingat adalah saat rekam e-KTP. Sebelum naik perahu, kami melewati beberapa desa salah satunya Desa Nanga Jetak (orang Jetak angkat tangannya πŸ–️). Jalannya jangan dibayangkan mulus. Batu plus lumpur tentunya. Waktu itu aku dibonceng sepupuku, dan kebetulan memang libur ku-liah 🐣.

Perjalanan belum selesai, kami sampai di penyebarangan dan di angkut menggunakan perahu untuk bisa menyebrang ke kantor Kecamatan.

Sampai ke kantor, proses rekam tidak langsung mulus seperti yang dibayangkan. Kami harus mengantri 😰. Alih-alih ingin tampil cantik saat direkam KTP πŸ‘© (Ku ketawa dulu πŸ˜…) justru wajah sudah berminyak tak karuan. Apalagi tahun 2014 silam, mana peduli sama make up (Pedulinya kamu aja. Laporan).

Proses rekam begitu singkat, pose manis ala-ala letih setelah mengantri sejak pagi hingga sore membuat aku tidak peduli, mau jadi apa nantinya e-KTPku itu.

Bagaimana tidak mengantri, hari itu ada beberapa desa yang diminta untuk rekaman, dan setiap KK harus mengantri 😡. Yah, nggak apa-apa kami nikmati.

Kembali pulang.

Perjalanan sama harus kami lewati dan finally sampai rumah sudah hampir malam. Tentu kami melewati hutan karet yang gelap saat itu tapi karena ramai ramai se kampung, yah jadinya gembira saja.

Kecamatan Dedai ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sintang. Tidak semua desa sudah memiliki akses sinyal memadai. Contohnya saja desaku 🀦‍♂️. Masyarakat di kecamatan Dedai ini dihuni oleh suku Melayu, Dayak, Thiohoa dan ada juga ya suku Jawa tentunya. Kalau kota kecamatan memang dekat dengan tepian sungai, jadi jangan heran anak anak Kalimantan rata-rata jago berenang. Nah, kalau kalian pengen tahu tentang kecamatan Dedai ini, bisa Search di google atau sini, main ke Kalbar 😁.

Tapi meski begitu, dulu keadaan itu biasa saja. Kami (anak-anak) kecil waktu itu, begitu menikmati banyak permainan di kampung. Memanjat pohon, berenang, mencari buah di hutan, ke sekolah dengan naik sepeda dan masih banyak lagi. Dan itu menyenangkan kan guys. Kalau kata orang Melayu Sintang "Sajo jom mampu lawan."

Untuk rute menuju Kecamatan Dedai ini bisa melewati dua arah, salah satu dari arah Desa Nanga Jetak tadi. Dijamin kalian akan jatuh hati deh dengan pesona hijau hutan dan aliran air sungai di kecamatan ini.

Nah, kalau tanya fotonya mana? Aku benar-benar nggak ada dokumentasi waktu itu, karena kamera nggak punya, hp juga masih G-star (qwerty) keluaran China. You knowlah, kualitas kamera mana secantik si mbak perfect selfi πŸ™. Dan nggak mungkin banget dong, aku sertakan foto e-KTP ku tadi yang tiap kali kulihat, selalu ingin membuatku tertawa dan ingin foto ulanf (Terimakasih dukcapil) πŸ€—

Sejak dua tahun terakhir ini, aku belum sempat main-main ke sana lagi. Nunggu ada yang mau nemanin atau boncengin. Udah gitu aja πŸ˜„.

Komentar

  1. itu sedang menaiki tangga apa?

    kapan yah aku bisa ke kali mantan?

    BalasHapus
  2. Itu naik tangga perahu mas, ini salah satu tempat wisata. Namanya kapal bandong. Nanti aku review tempatnya.
    Amiin. Semoga bisa berkunjung ke bumi Senentang mas.

    BalasHapus
  3. Berkunjung ke Sungai Kapuas. Makan ikan sungai. Dijamin jatuh hati

    BalasHapus
  4. apa itu? apa semacam seblak?

    eh orang kalimantan tau seblak gak ya

    BalasHapus
  5. Bukan mas, itu kerupuk cuma dia nggak digoreng. Dan ini asli ikannya ikan kalimantan. Ikan segar.
    Wah, kalau seblak, tahu πŸ˜„πŸ˜‚Hani pernah buat juga, diajari teman orang sunda. Dan di sini ada yang jual

    BalasHapus
  6. wow, ternyata seblak sudah sampai Kalimantan

    jenis ikan apa yang suka dijadikan bahan baku kerupuknya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother's Day is Everyday

Yuk Gabung Komunitas Ikatan Kata

Terimakasih Malang