Aku dan diriku

Pic: Pinterest
Kota semakin ramai terlihat, meski hanya gemerlap lampu yang bisa di jangkau. Padahal Jam sudah menunjukkan pukul 23.59. Aku jadi teringat sebuah kalimat yang aku baca tadi siang, betul sekali, semakin ingin tidak berpikir negatif selalu saja semakin kuat untuk berpikir negatif, sampai mataku ini tak bisa dipejamkan. Ah, hidup memang kadang tak perlu meratapi yang lalu apalagi mencemaskan yang akan datang. Cukup jalani yang ada. Kini.
Mataku masih saja menatap keluar dari kaca apartemen yang sudah hampir setahun ini aku tempati. Ditemani segelas teh hangat dengan sedikit gula favoritku.
"Kau masih saja rajin merawat lukamu." tiba-tiba saja dia muncul lagi tepat dihadapanku
"Aku tak merawat apapun." Jawabku malas.
"Kalau tidak, kenapa kau menangis?"
Sial, dia memergogiku sedang menangis. Mau mengelak, jelas sudah air mataku memang mengalir diam diam sejak tadi dari sudut sudut mataku.
"Sudah, jangan dirawat, jangan pula dicemaskan yang belum terjadi." Kali ini ia berkata santai sambil mengambil teh hangatku.
"Tak sopan." Gumamku
Kulihat ia masih menikmati teh hangat milikku.
"Aku hanya...." Suara kutertahan. Tangis ku tumpah.
"Hanya apa?" Ia menatapku dan meletakan teh yang baru selesai ia habiskan
"Aku hanya tak tahu, kemana arah hidupku."
"Kau cemas? Hey, apa yang kau cemaskan. Hidup yang akan datang tak perlu begitu sangat kau rencanakan."
Aku mulai malas melanjutkan obrolan kalau ia sudah jadi sok tahu begini.
Aku tak pernah begitu merencanakan apapun semenjak aku pernah berencana hidup dengannya. Aku tak pernah lagi banyak memikirkan hal hal yang belum terjadi saat dimana ia yang kumasukan dalam daftar hari hariku kelak justru hilang entah kemana.
"Aku tak pernah minta macam-macam atas hidupku. Aku tak minta ini dan itu, tentang gemerlapnya dunia ini. Aku hanya ingin satu saja." Aku terisak, tak mampu kubendung air mataku.
Ia menatapku.
"Apa yang kau mau? Sudah kau minta dengan Tuhan?"
"Aku ingin hidup dalam hidupnya selamanya hingga dunia sudah tak menjadi dunia, hingga hidup hanya berada dalam satu negeri yaitu akhirat. Itu saja." Aku menarik nafas panjang.
Ia menantapku nanar.
Sedang aku memeluk lututku kuat kuat.
"Kau tak boleh termakan egomu dalam hal ini." Ia berucap pelan. Suaranya begitu pelan.
Aku ingin menjawabnya, namun tiba-tiba saja dia sudah tidak ada lagi di hadapanku.
Aku baru sadar. Tak ada satu orangpun dari tadi dihadapan ku, hanya ada aku dan bayanganku sendiri di kaca apartemen. Aku hanya sedang bicara dengan diriku sendiri.
Ku seka air mataku, kuhirup udara malam yang semakin larut. Semoga aku kembali bisa berdamai dengan hatiku sendiri.
Wihh ngeri, bicara sama bayangan
BalasHapusBiasa malah ngomong depan kaca sendiri 😅
BalasHapus