Hujan dan Kita



Aku kira lagu 'November Rain' hanya sebuah lagu saja. Rupanya 2018 ini sejak awal bulan November hujan setia menguyur tanah yang kupijaki.

Atau sekedar puisi 'Hujan Bulan Juni' yang begitu terkenal dikalangan pencinta puisi. Penuh makna. Rupanya Juni lalu hujanpun mengguyur bumi ini.

Kenapa yang mereka tulis berkutat tentang Hujan, dan bulan? Entahlah, tentu hanya mereka yang tahu. Yang aku mengerti, cerita cerita hidup acapkali berkaitan dengan, hujan, bulan, menjadi kenangan dan masuk kembali menjadi masa depan.

Kisah-kisah selalu berseleweran antara hujan, bulan, kenangan dan masa depan.

Sore itu, hujan mengguyur kota. Aku bergegas masuk ke dalam sebuah kedai, menikmati coklat panas sambil memandang keluar jendela. Ponsel ku letakan di sebelah kanan, sesekali aku melihat notifikasi yang muncul di layar ponsel. Kemudian membiarkan tak dibuka. Kau panggil saja Laras. Ya Laras. Kedatangan ku ke kedai sore ini untuk menunggu seorang teman yang berjanji akan tiba pukul 16.00 namun hingga 16.15 dia masih belum muncul.

Kedai tak begitu ramai hanya beberapa pengunjung dan dua pasangan yang duduk tak jauh dariku. Keduanya berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Aku jelas mendengarnya.

"Kalau begitu, tak ada yang perlu dilanjutkan. Anak-anak ikut aku." Tegas sang lelaki.

Sang perempuan hanya terdiam. Menangis.

Aku ingin sekali menutup rapat telingaku. Tujuanku ke kedai adalah menikmati coklat dan menunggu teman. Kenapa jadi mendengar pertengkaran.

Tak lama lelaki itu pergi meninggalkan wanita tersebut yang masih menangis. Dan kemudian ia pun pergi.

Aku menghela nafas. Panjang.

Sesaat kemudian, temanku datang. Tergesa-gesa. Kulihat matanya sembab. Belum sempat bertanya. Dia sudah berhambur memeluk tubuhku hingga hampir terjatuh dari kursi.

"Hey, ada apa?" Tanyaku.

Masih tak ada jawaban, hanya isak yang terdengar.

"Laras. Bimo sakit." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.

"Sakit? Sakit apa?" tanyaku lagi.

Dia kembali menangis. Membiarkan aku menerka nerka.

"Bimo membatalkan pernikahan kami La." Ia melontarkan kata kata di luar dugaan.

"Apa?" Aku setengah berteriak. Sakit dan batal menikah apa hubunganya. Undangan mereka sudah tersebar hanya tinggal hitungan detik.

"Bimo sakit La."

Aku terdiam, menggigit bibirku sendiri. Setelah mendengarkan bahwa tak ada harapan Bimo untuk kembali sehat. Aku tahu betul bagaimana perjalanan keduanya hingga titik ini.

Aku hanya bisa memeluk Rona tanpa kata kata. Percuma pun aku berkata kata, menasehati atau apapun itu. Rona hanya perlu dipeluk. Aku tahu sesaknya luar biasa.

Pikiranku berguguran mengigat banyak hal. Tentangmu. Ya tiba tiba pikiran ku teringat akan engkau.

Aku ingat percakapan kita kala itu di tepi pantai. Kau berucap banyak hal termasuk sebuah penerimaan tentang hidupku.

Ya aku tahu, menerima bukan hanya kata-kata. Ia perlu diresapi dan dijalani.

Aku menggegam tangan Rona, kuat.

"Rona, andai kau tahu. Bimo tak bermaksud menyakitimu. Ia hanya memberimu ruang untuk memilih bahagiamu." gumamku.

"Laras, apa kau siap melepaskan ia, demi bahagianya? Atau memaksanya untuk menerimu, seutuhnya. " tanyaku berbisik pada diriku sendiri.

Rona, kau tahu. Aku pun seperti Bimo.

...

Hujan mulai reda, Rona sudah pamit tapi aku masih di kedai, menunggumu datang. Kulihat senyum manismu dengan bunga mawar yang selalu kau bawa untukku.

Ah kau, mau kah kau menerima ku untuk menjadi kita atau justru aku harus melepaskanmu demi bahagiamu?

Beri aku jawaban!

....

Regards

Hani Septiana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother's Day is Everyday

Yuk Gabung Komunitas Ikatan Kata

Terimakasih Malang