Titik Jenuh

"Telah sampai pada titik yang tak pernah aku mau. Ya, titik jenuh."

Tangisku pecah di ujung percakapan dengan Ibuku. Tubuhku, kupaksakan bangun dari tidur seharian. Badan lemasku, ku usahakan untuk kuat dan aku tak mampu. Aku tertahan pintu lemari untuk tidak benar-benar jatuh.

Ya, kali ini aku mengeluh banyak hal. Meski aku tidak berucap apapun tapi tangisku yang tiba tiba pecah cukup menggambarkan apa yang aku rasakan.

"Bu, aku capek. Jenuh" Hanya itu yang keluar dari bibirku. Tanganku meremas-remas ujung baju yang kukenakan.

Aku ingin kembali menjadi aku yang belasan tahun lalu. Aku ingin kembali menjadi anak Ibu dan Bapak yang merengek nangis minta diantar ke sekolah meski hujan. Aku ingin menjadi anak Ibu dan Bapak yang tertidur pulas di depan TV dan diangkat ke tempat tidur. Atau sekedar bermainan di samping rumah , tertawa lepas.

Hiruk pikuk kehidupan dewasa ini telah menguras banyak hal dalam tubuh ringkihku. Tak ada satupun yang memahami, kecuali aku dan Pemberi kehidupanku serta Ibu dan Bapak.

Yah, ini receh untuk perempuan seperempat abad ini. Tapi aku tetaplah manusia. Butuh didengar, bukan diabaikan, butuh difahami bukan disakiti.

Hingga sampai di titik jenuh ini, aku tahu bahwa hanya akulah yang memiliki tubuhku, bukan oranglain. Aku yang harus menjaganya, aku yang harus mencintainya dan aku yang harus menghargainya.

Di titik jenuh ini aku belajar memaafkan siapapun bukan karena aku lemah tapi karena aku tahu, semakin aku berkutat dengan kecewa kecewa ku dan keinginaku, semakin luka-luka itu terasa. Aku tentu amat sangat ingin mengutuk siapapun yang melukaiku, mengumpatnya. Tapi tidak, itu bukan ranahku. Aku percaya Tuhan Maha Adil.

Aku hanya ingin kuat, untuk hidupku ke depan, untuk Ibu dan Bapak, untuk adik adik dan untuk siapapun yang mencintaiku.

Dan sebagai manusia. Aku tetaplah manusia. Butuh pelukan untuk hangat, butuh doa untuk kuat.

🍀 HS

Komentar

  1. Semoga kamu kuat, Hani. Satu quote yang pas untuk Hani, "TAK ADA KATA MUDAH UNTUK ORANG DEWASA."

    Saat seseorang sudah beranjak dewasa, ujian kehidupannya pun sudah berbeda dengan saat ia remaja. Ibarat kata pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang anginnya.

    Apalagi nanti setelah memasuki kehidupan pernikahan. Wow! It's more difficult than you are thinking now. Ya, hadapi saja semua ini. Kalau mau kuat, kuatlah dan jangan melakukan hal-hal yang membuatmu lemah. Titik jenuhmu itu perlahan akan hilang dan berubah menjadi titik happy.

    Semangat!

    BalasHapus
  2. Terimakasih banyak mas. Amiin. Semakin ke sini saya tahu bahwa hidup ini dinamis, bukan statis. Dan segala macam hal selalu ada hikmahnya. Semoga titik jenuh ini segera menghilang.

    BalasHapus
  3. Baru 25 tahun kan, masih banyak hal yang belum diketahui, masih ada aktifitas dan cita-cita yang belum dilakukan.

    Mau Mas kasih saran tentang mengenyahkan kejenuhan?

    Kalau aku, saat jenuh, aku biasanya melakukan hal yang selama ini belum pernah aku lakukan (tentunya dalam konteks yang baik).

    Misal, hari minggu Hani jarang berkeliling rumah/kampung sekitar. Maka pergilah saat pagi hari sambil jogging. Atau pergi ke acara CAR FREE DAY (kalau ada)

    Selain itu, seseorang jenuh karena terlalu monoton melakukan hal yang itu-itu saja. Cobalah lakukan hal lain. Tanya dirimu, apa saja sih yang belum aku lakukan selama ini?

    Tips kedua yang paling mujarab adalah hangout/main sama teman-teman. Piknik, traveling atau hanya jalan-jalan ke taman.

    Ibarat ada gas yang masuk ke kamar Hani, rasanya pengap dan sesak. Keluarlah dulu dari kamar itu hingga gasnya habis tak bersisa.

    Semoga Allah menjagamu.

    BalasHapus
  4. Terimakasih banyak mas sarannya. Amiin. Pelan pelan sarannya diikuti mas. Beberapa hari ini diikuti dengan tubuh yg kurang fit. Semoga Allah menjaga mas dan keluarga juga di manapun berada.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother's Day is Everyday

Yuk Gabung Komunitas Ikatan Kata

Terimakasih Malang