Nasehat Bapak

Kepasrahan kita sudah barang tentu hanya diperuntutkan pada Allah (Bapak)

Aku dan Bapak sama-sama suka air sari kedelai. Bedanya lagi Bapak lebih suka kopi dan aku lebih suka teh.

Bapak paling takut dengan ketinggian, tapi beda denganku. Aku berani manjat pohon tinggi dan kemudian terjun bebas ke sungai. Bapak lebih suka membahas masalah politik, dan aku lebih dengerin Bapak bilang "Mahasiswa kok nggak tahu isu ini itu." Itu dulu pas zaman masih kuliah tiap kali Bapak telpon yang ditanya isu terbaru. Aku cuma jawab "Belum baca." sambil ketawa.

Sabtu pekan lalu, Bapak harus rawat inap di rumah sakit. Bermula dari telpon dipagi hari dari Bapak yang membuatku kebingungan sendiri. Suara di ujung telpon menggambarkan kesakitan yang luar biasa. Tak ada lain dipikiranku, hanya bagaimana cara cepat untuk bisa sampai ke lokasi menjemput Bapak.

Itu pertama kalinya, aku merasakan sesak luar biasa. Menatap Bapak kesakitan dan aku hanya bisa berbuat semampuku. Padahal dulu sekali, saat aku bayi, Bapaklah orang satu-satunya yang rela menyedot hidungku saat tersumbat. Bapak orang satu-satunya yang rela mengantarkan ku ke sekolah meski hujan. Bapak orang yang rela menarik tangan ku saat asyik bermain hujan dan petir hampir menyambar. Bapak orang satu- satunya yang rela tidak beli baju lebaran asal anak-anaknya bisa sekolah.

Air mataku tertahan, tertahan. Meski dadaku masih sesak saat Bapak bilang "Pengang tangan Bapak."

Apa yang bisa aku lakukan, selain menunggu mobil jemputan untuk segera ke rumah sakit.

Andai saja rasa sakit itu bisa digantikan layaknya peran pengganti dalam film laga, aku rela menggantikannya. Tapi tidak, tak ada tawar menawar perihal jalan hidup seseorang. Meski Bapak atau Ibu kita sekalipun.

Hari ini saat aku menuliskan tulisan ini, Bapak kembali dirawat inap untuk pengobatan selanjutnya. Wajah Bapak tampak jauh lebih sehat meski terlihat sedikit kurus. Seluruh kesehatan lain tak ada yang terganggu dan itu menunjukan bahwa pengobatan selanjutnya akan berjalan sebagaimana mestinya dan lancar.

Pak, segera sehat kembali ya. Mohon dimaafkan segala hatur maaf atas segala salah yang berlimpah ini. Nasehat Bapak masih selalu aku perlukan sampai kapanpun.
Nanti, suatu hari kalau kamu dipertemukan dengan seorang laki-laki carilah yang mau menikahi mimpimu, keluargamu dan dirimu. (Bapak)



Untuk siapapun yang sedang sakit semoga segera disehatkan, yang sehat selalu dikuatkan.

Salam

Pena Bersayap

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother's Day is Everyday

Yuk Gabung Komunitas Ikatan Kata

Terimakasih Malang