Kita adalah KITA

Sumber Pic: Pinterest
Izinkan aku bersajak untukmu. Maukah kau mendengarkan sedikit sajakku ini. Sedikit saja, jika nanti terlampau banyak jangan salahkan aku ya. Karena, saat aku menuliskan apa pun tentangmu, semua terasa begitu luas.
Bagaimana, kau sudah siap?
O iya, kuberitahu. Aku sedang menyelesaikan buku bacaan yang cukup berat judulnya Instanbul (Orhan Pamuk) baru sampai halaman 60. Novel terjemahan memang menguras sedikit tenaga.
Jadi kau penasaran sajak apa yang ingin kutulis? Baiklah.
Kau tahu, kau adalah diam-diamku yang kutatap dari jendela kamar. Kau pasti menyangkal, kitakan bukan tetangga. Ya, betul sekali. Tapi saat pertamakali kubuka jendelaku setiap pagi, aroma parfummu begitu khas terasa.
Kau yang tak beraniku mimpikan tak pula berani kuharapkan. Lalu? Karena keduanya akan begitu menyakitkan. Kau kepasrahanku pada semesta, meski setengah mati aku menepis segala mimpi dan harap tentangmu
Perbincangan panjang, cara bicara segalanya terekam rapi. Ah, kita bukan kisah Laila dan Majnun yang tersohor atau kisah romantis di dongeng-dongeng sebelum tidur.
Kita adalah kita dengan cerita kita sendiri. Aku tak mau jadi dongeng, tak mau juga jadi lagenda. Aku mau kita menjadi KITA dalam cerita kita yang menjadi nyata.
Salam
Pena Bersayap
Komentar
Posting Komentar