Bolehkah Dunia Aku Lihat?
[caption id="attachment_514" align="alignnone" width="682"]
Sumber : Pinterest[/caption]
Kali ini setelah beberapa purnama akhirnya aku memutuskan untuk berperang melawan si”Nanti” untuk menulis ini. Sudah sejak dua pekan sebenarnya, apa yang tertuang dalam tulisan ini ingin aku tulis.
Rabu, dua pekan lalu (hitung sendiri J ) hehe tepatnya tanggal 6 Maret aku mengantarkan adik pertama ke rumah sakit daerah, Ade Moh Djoen.
Pagi Rabu itu ditemani hujan yang cukup deras dan akhirnya kami sampai di lantai dua rumah sakit. Lantai dua yang dikhususkan bagi pasien rawat jalan, sudah padat raya dipenuhi orang-orang yang sudah antri di depan poli tujuan masing-masing. Setelah mengurus ini itu, akhirnya kami menunggu di depan poli gigi. Kebetulan adik perempuan ku ini memang sedang proses pemeriksaan gigi dengan penambalan gigi perawatan.
Hampir setengah jam berlalu, nama adikku belum juga dipanggil masuk ke dalam ruangan. Dia masih sibuk menyelesaikan latihan merajutnya dan aku masih sibuk dengan buku. Tiba-tiba saja, dia beranjak ke kursi belakang dan ngobrol asik dengan salah seorang ibu paruh baya dengan seorang anak balitanya. Awalnya aku masih belum tertarik untuk ikut nimbrung obrolan adikku dengan ibu tersebut. Aku tahu betul, dia tipe paling mudah akrab dengan orang yang baru saja ia temui. Jadi aku pikir, mungkin dia tengah bosan mengantri di depan poli gigi ini.
Tiba-tiba saja ia memukul pahaku dan sedikit berbisik “Kak, kasihan banget adek kecil itu.” Spontan aku kaget dan menoleh ke arah belakang, jarak kursi kami dipisahkan satu sekat kursi panjang, jadi otomatis ibu tersebut tidak menyadari ekspresiku.
“Adek kecil itu, nggak bisa lihat.” Dia kembali menjelaskan padaku dengan nada amat pelan. Spontan saja aku kanget.
“Kok bisa?” Dengan jenis pertanyaan macam apa, aku bertanya kaget. Belum sempat menjawab pertanyaanku, adikku kembali menolah ke arah belakang, memegang pipinya. Karena ternyata adik kecil tersebut berusaha berjalan dituntun ibunya. Aku dengan rasa penasaranku langsung bertanya.
“Bu, maaf. Adiknya sakit apa?” Dengan nada hati-hati sekali aku melontarkan pertanyaan pada sosok ibu di depanku ini.
“Katarak mbak.” Ibu tersebut langsung menjawab rasa penasaranku.
“Umur adeknya berapa bu?” Masih dengan perasaan penasaran, iba dan sebagainya. Aku melontarkan pertanyaan kembali.
“Baru satu tahun setengah mbak.” Ibu tersebut menjawab sambil terus menuntun anaknya berjalan. Ibu dengan tubuh yang kurus ini begitu amat terlihat tegar, dan menurutku dia bukan orang kota melainkan orang daerah pedalaman yang rumahnya cukup jauh dari kota.
“Dia baru habis operasi mbak, tapi justru nggak bisa lihat sama sekali. Waktu umur setahun pas, dia kena panas tinggi. Dan kemudian berpengaruh ke matanya.” Ibu, itu berbicara padaku yang masih tertegun dengan logat bicaranya khasnya, seolah tahu betul apa yang ingin aku tanyakan.
Deg, deng, jantungku mulai terasa tak beraturan. Sedih bercampur aduk. Bagaimana mungkin katarak menyerang balita. Tapi kemudian aku ingat katarak memang sangat mungkin menyerang balita dan beberapa tempo lalu, kita tahu anak seorang artis pun ada yang terserang katarak saat bayi.
Katarak sendiri menurut beberapa artikel yang aku baca merupakan kondisi lensa mata yang terdapat bercak putih menyerupai awan. Biasanya katarak menyerang orang berusia lanjut. Namun katarak juga bisa menyerang bayi, katarak jenis ini dinamakan katarak kongenilitas disebabkan beberapa faktor salah satunya kuturan dan katarak juga bisa menyerang usia balita karena reaksi terhadap obat-obatan tertentu, benturan sekitar mata dan bawaan lahir (berbagai sumber). Dan mendeteksi katarak memang harus dilakukan oleh seorang ibu sejak anak masih bayi. (Mungkin jika ada dokter yang membaca bisa menjelaskan tentang ini)
Aku sudah tidak bisa berkata banyak melihat kondisi adik laki-laki lucu, berbadan kurus di hadapan kami. Aku hanya bisa berkata “Cepat sehat ya dek, cepat bisa melihat dunia.” Sambil mengelus pipi adik tersebut yang belum sempat aku tanyakan namanya.
Kemudian pekan selanjutnya, aku dan adikku kembali menunggu di depan poli gigi. Adik kecil itu tak kunjung datang.
Note:
betapa banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian di sekitar, banyak hal yang bisa dijadikan acuan untuk bersyukur. Belajar tentu tidak hanya melulu soal bangku sekolah. Ki Hajar Dewantara pun pernah berkata bahwa setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah. Tentu, mengatarkan adikku ke rumah sakit pekan itu adalah waktu kami untuk belajar dari adik kecil dan ibunya yang terlihat begitu tegar, dari seorang bocah usia kurang lebih 7 tahunan terdapat gangguan mata sehingga kesulitan untuk melihat, seorang nenek yang menunggu berjam-jam di depan poli mata, bayi yang tidak mengalami tumbuh kembang yang baik padahal harusnya dia sudah bisa berbicara dan orang-orang yang silih berganti datang di ruang rawat jalan tersebut.
Kadang-kadang kita ini menjadi sedikit lebih sombong atas sedikit kenikmatan, jabatan, kekayaan dan kecantikan yang Tuhan beri, sehingga kita tak mau belajar dari siapapun, termasuk diri kita sendiri.
Selamat membaca.
Pena Bersayap
Sumber : Pinterest[/caption]Kali ini setelah beberapa purnama akhirnya aku memutuskan untuk berperang melawan si”Nanti” untuk menulis ini. Sudah sejak dua pekan sebenarnya, apa yang tertuang dalam tulisan ini ingin aku tulis.
Rabu, dua pekan lalu (hitung sendiri J ) hehe tepatnya tanggal 6 Maret aku mengantarkan adik pertama ke rumah sakit daerah, Ade Moh Djoen.
Pagi Rabu itu ditemani hujan yang cukup deras dan akhirnya kami sampai di lantai dua rumah sakit. Lantai dua yang dikhususkan bagi pasien rawat jalan, sudah padat raya dipenuhi orang-orang yang sudah antri di depan poli tujuan masing-masing. Setelah mengurus ini itu, akhirnya kami menunggu di depan poli gigi. Kebetulan adik perempuan ku ini memang sedang proses pemeriksaan gigi dengan penambalan gigi perawatan.
Hampir setengah jam berlalu, nama adikku belum juga dipanggil masuk ke dalam ruangan. Dia masih sibuk menyelesaikan latihan merajutnya dan aku masih sibuk dengan buku. Tiba-tiba saja, dia beranjak ke kursi belakang dan ngobrol asik dengan salah seorang ibu paruh baya dengan seorang anak balitanya. Awalnya aku masih belum tertarik untuk ikut nimbrung obrolan adikku dengan ibu tersebut. Aku tahu betul, dia tipe paling mudah akrab dengan orang yang baru saja ia temui. Jadi aku pikir, mungkin dia tengah bosan mengantri di depan poli gigi ini.
Tiba-tiba saja ia memukul pahaku dan sedikit berbisik “Kak, kasihan banget adek kecil itu.” Spontan aku kaget dan menoleh ke arah belakang, jarak kursi kami dipisahkan satu sekat kursi panjang, jadi otomatis ibu tersebut tidak menyadari ekspresiku.
“Adek kecil itu, nggak bisa lihat.” Dia kembali menjelaskan padaku dengan nada amat pelan. Spontan saja aku kanget.
“Kok bisa?” Dengan jenis pertanyaan macam apa, aku bertanya kaget. Belum sempat menjawab pertanyaanku, adikku kembali menolah ke arah belakang, memegang pipinya. Karena ternyata adik kecil tersebut berusaha berjalan dituntun ibunya. Aku dengan rasa penasaranku langsung bertanya.
“Bu, maaf. Adiknya sakit apa?” Dengan nada hati-hati sekali aku melontarkan pertanyaan pada sosok ibu di depanku ini.
“Katarak mbak.” Ibu tersebut langsung menjawab rasa penasaranku.
“Umur adeknya berapa bu?” Masih dengan perasaan penasaran, iba dan sebagainya. Aku melontarkan pertanyaan kembali.
“Baru satu tahun setengah mbak.” Ibu tersebut menjawab sambil terus menuntun anaknya berjalan. Ibu dengan tubuh yang kurus ini begitu amat terlihat tegar, dan menurutku dia bukan orang kota melainkan orang daerah pedalaman yang rumahnya cukup jauh dari kota.
“Dia baru habis operasi mbak, tapi justru nggak bisa lihat sama sekali. Waktu umur setahun pas, dia kena panas tinggi. Dan kemudian berpengaruh ke matanya.” Ibu, itu berbicara padaku yang masih tertegun dengan logat bicaranya khasnya, seolah tahu betul apa yang ingin aku tanyakan.
Deg, deng, jantungku mulai terasa tak beraturan. Sedih bercampur aduk. Bagaimana mungkin katarak menyerang balita. Tapi kemudian aku ingat katarak memang sangat mungkin menyerang balita dan beberapa tempo lalu, kita tahu anak seorang artis pun ada yang terserang katarak saat bayi.
Katarak sendiri menurut beberapa artikel yang aku baca merupakan kondisi lensa mata yang terdapat bercak putih menyerupai awan. Biasanya katarak menyerang orang berusia lanjut. Namun katarak juga bisa menyerang bayi, katarak jenis ini dinamakan katarak kongenilitas disebabkan beberapa faktor salah satunya kuturan dan katarak juga bisa menyerang usia balita karena reaksi terhadap obat-obatan tertentu, benturan sekitar mata dan bawaan lahir (berbagai sumber). Dan mendeteksi katarak memang harus dilakukan oleh seorang ibu sejak anak masih bayi. (Mungkin jika ada dokter yang membaca bisa menjelaskan tentang ini)
Aku sudah tidak bisa berkata banyak melihat kondisi adik laki-laki lucu, berbadan kurus di hadapan kami. Aku hanya bisa berkata “Cepat sehat ya dek, cepat bisa melihat dunia.” Sambil mengelus pipi adik tersebut yang belum sempat aku tanyakan namanya.
Kemudian pekan selanjutnya, aku dan adikku kembali menunggu di depan poli gigi. Adik kecil itu tak kunjung datang.
Note:
betapa banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian di sekitar, banyak hal yang bisa dijadikan acuan untuk bersyukur. Belajar tentu tidak hanya melulu soal bangku sekolah. Ki Hajar Dewantara pun pernah berkata bahwa setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah. Tentu, mengatarkan adikku ke rumah sakit pekan itu adalah waktu kami untuk belajar dari adik kecil dan ibunya yang terlihat begitu tegar, dari seorang bocah usia kurang lebih 7 tahunan terdapat gangguan mata sehingga kesulitan untuk melihat, seorang nenek yang menunggu berjam-jam di depan poli mata, bayi yang tidak mengalami tumbuh kembang yang baik padahal harusnya dia sudah bisa berbicara dan orang-orang yang silih berganti datang di ruang rawat jalan tersebut.
Kadang-kadang kita ini menjadi sedikit lebih sombong atas sedikit kenikmatan, jabatan, kekayaan dan kecantikan yang Tuhan beri, sehingga kita tak mau belajar dari siapapun, termasuk diri kita sendiri.
Selamat membaca.
Pena Bersayap
Komentar
Posting Komentar