Santri's Day [Apa Ceritamu Saat Mondok?]

22 Oktober 2015 merupakan awal dicetuskannya Hari Santri, Bahkan kampus tempat saya menimba ilmu dengan semangat dan kerjasamanya bisa memecahkan Rekor Muri "Berkuliah menggunakan sarung terbanyak". Sempat merinding menyaksikan pemandangan seluruh mahasiswa/i berdandan ala satri. Sejarah pencetusan bisa teman-teman baca lengkapnya  disini.

Ada banyak kisah menarik ketika seseorang pernah tinggal di Pondok Pesantren senang, sedih semua bisa dirasakan. Menariknya meski saat-saat hidup di pesantren ada banyak yang merasa nggak betah, tapi lagi-lagi saat sudah selesai mondok justru rindu masa-masa hidup di pesantren.

Berbagi cerita, dulu waktu saya pertama kali didaftarkan ke pesantren rasanya begitu asing. Setiap hari menangis bahkan berkali-kali membujuk orangtua untuk out dan pindah. Sayangnya bujukan saya ditolak mentah-mentah tanpa boleh memberikan alasan apapun. Bahkan hal yang sama terjadi lagi saat akan masuk ke jenjang Sekolah Menengah Atas, berkali-kali saya meminta untuk bisa out tapi lagi-lagi dengan tegas Bapak saya bilang :
"Kamu Belum Jadi Orang"

Fix. Saya kembali lagi belajar di Pesantren. Dijalani saja dan akhirnya selesai juga dengan sendirinya. Hal yang sama berlanjut saat saya masuk Perguruan Tinggi di Pulau Jawa. Dengan bekal ketidak tahuan saya tentang kota Malang secara mendetail, membuat saya akhirnya kembali masuk ke sebuah Pondok Pesantren Mahasiswa di Daerah Dinoyo. Bertahan hingga masuk semester 5, tiba-tiba saya diserang sejenis sydrom KETIDAKBETAHAN. Percaya nggak percaya, setiap hari saat masuk kuliah saya selalu bercerita ini, itu, mengeluh begini, begitu pada salah seorang teman saya. Tapi bukan dapat dukungan saya justru mendapat jawaban mencengangkan dari dia.
"Hani, dinikmtai saja. Banyak lo yang kepingin mondok tapi ndak bisa. Syukuri. Insya ALLAH nanti akan terasa manfaatnya.

Saya hanya diam mencerna jawaban teman saya. Hingga akhirnya saya benar-benar menyerah, menikmati kembali. Barulah setelah menginjak semester akhir saya baru sadar. Bahwa sejatinya semua yang dilalui itu menyenangkan meski berkali-kali pernah merasakan takzir [Hukuman] karena bolos tidak shalat malam atau hanya sekedar pulang telat ke pesantren gara-gara sibuk di kampus. Berkali-kali dimarah berjamaah sambil berdiri karena hanya ada salah satu yang melanggar, disindir karena hafalan dan jus ngaji yang nggak nambah-nambah.

Tapi lebih dari itu saya merasakan hal yang begitu luar biasa, pengalaman yang begitu banyak dan tentunya banyak hal yang tidak bisa diungkapan dengan kata-kata. Dan saya merasakan mamfaatnya bukan saat saya belajar di pondok tapi ketika saya sudah terjun  menghadapi dunia luar. So, masih malas untuk mondok?

Hari ini saya bisa merasakan bagaimana mereka [santri] begitu bahagia menjadi seorang santri.

Well, Jika kata-kata ini cocok 
"Dari Santri Untuk Indonesia dan Peradaban Dunia"

Apa yang kemudian harus kita kerjakan untuk mewujudkannya?

Nah, Dihari Santri ini yuk berbagi pengalaman nyatri mu dulu! Agar lebih banyak yang ingin jadi "Santri" :)

7santri-untuk-negeri

Sumber gambar : KMNU

Komentar

  1. Sy kmarin jd santri kilat mba' hani.
    Wusst,,, akhirnya selesai jd santri.
    bgai anak panah keluar dri sarungnya 😃😃😃

    BalasHapus
  2. Seru banget ya Wahyu pastinya. Pengalaman apa paling menarik saat ikut pesantren kilat?

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah ya, bisa berhasil nyantri. Kalo saya dulu malah pengen nyantri tapi nggak jadi jadi. Salam kenal ya

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah mbak, ilmunya masih dangkal mbak. Masih kepingin mondok lagi rasanya. Ndak apa mbak, mungkin nanti generasinya mbak Sarah bisa melanjutkan perjuangan mbak untuk nyantri.Salam kenal juga mbak. Terimakasih telah berkunjung ke Blog saya.

    BalasHapus
  5. mesti banyak belajar nih sama santriwati seperti Hani

    BalasHapus
  6. Wah, saya yang harus banyak belajar mas

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother's Day is Everyday

Yuk Gabung Komunitas Ikatan Kata

Terimakasih Malang