Sudahkah Kita BerMusyawarah?
Dalam hidup ini, kita memang dihadapkan dengan berbagai hal yang membutuhkan sebuah ‘Keputusan’. Bahkan menurut Ralp C. Davis bilang bahwa keputusan merupakan hasil pemecahan suatu masalah yang dihadapi.
Nah, salah satu cara dalam mengambil keputusan yaitu dengan Musywarah.
Yang ingat pelajaran PPKN/Kewarganegaraan tahu dong apa itu Musyawarah.Yang belum tahu atau lupa yuklah kita ingat-ingat lagi apa itu Musyawarah.
Saya ingat betul, dulu, dululah. Waktu zaman kuliah. Salah seorang senior yang aktif dikeorganisasian selalu mengingatkan bahwa segala masalah bisa dicari jalan keluarnya dengan cara duduk bareng [Baca:Musyawarah].
Cara ini menurut saya ampuh bin mujarab. Coba saja!
Jelas sekali dalam Q.S Al-Syura ayat 38 dikatakan:
Musyawarah lazimnya dilakukan dengan bertatap muka, berhadap-hadapan [eh, jangan lupa jaga pandangan yak :) ]. Namun bagi sebagian orang yang berstatus ‘Perantau’ system musyawarah jelas dan pasti dilakukan adalah dengan menggunakan alat komunikasi untuk menghubungi kedua orangtua. Karena faktor jarak tentunya. Ngaku saja yang anak rantau [Mana suaranya anak rantauu :) ]. Lewat musyawarah dengan kedua orangtua jelas membentuk sebuah kedekatan antara anak-anak dan orangtuanya. Apalagi di zaman serba-serbi ini kedekatan keluarga Ayah, Ibu, Nenek, Kakek, dan saudara-saudara itu perlu terjalin. Keterbukaan itu perlu dibina.
Tidak hanya itu dalam kehidupan dengan para sahabat pun kita tetap harus bermusyawarah jika terdapat ketidak sefahaman. Diskusikan dengan baik dan sopan pastinya. Jangan justru kita yang lemah ini membicarakan dia dibelakang [baca:seperti ghibah] yang justru menambah masalah baru.
Tidak hanya itu dengan bermusyawarah dapat menjernihkan pikiran bisa membuat kita belajar. Belajar bagaimana mengendalikan sebuah emosi dan menurunkan ego.
Jika musywarah ini telah dijalani, keputusan sudah diambil, maka ‘Bismillah’ serahkan semuanya pada Sang Pencipta, Sang pemilik keputusan.
Pertanyaannya? Sudahkah kita bermusyawarah dalam mengambil setiap keputusan? Yuk bermusywarah!

Ilustrasi sarungbiru.wordpress.com
Nah, salah satu cara dalam mengambil keputusan yaitu dengan Musywarah.
Yang ingat pelajaran PPKN/Kewarganegaraan tahu dong apa itu Musyawarah.Yang belum tahu atau lupa yuklah kita ingat-ingat lagi apa itu Musyawarah.
Musyawarah merupakan cara yang dilewati dalam berbagai aspek, baik kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan kehidupan keluarga.
Saya ingat betul, dulu, dululah. Waktu zaman kuliah. Salah seorang senior yang aktif dikeorganisasian selalu mengingatkan bahwa segala masalah bisa dicari jalan keluarnya dengan cara duduk bareng [Baca:Musyawarah].
Cara ini menurut saya ampuh bin mujarab. Coba saja!
Jelas sekali dalam Q.S Al-Syura ayat 38 dikatakan:
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
Musyawarah lazimnya dilakukan dengan bertatap muka, berhadap-hadapan [eh, jangan lupa jaga pandangan yak :) ]. Namun bagi sebagian orang yang berstatus ‘Perantau’ system musyawarah jelas dan pasti dilakukan adalah dengan menggunakan alat komunikasi untuk menghubungi kedua orangtua. Karena faktor jarak tentunya. Ngaku saja yang anak rantau [Mana suaranya anak rantauu :) ]. Lewat musyawarah dengan kedua orangtua jelas membentuk sebuah kedekatan antara anak-anak dan orangtuanya. Apalagi di zaman serba-serbi ini kedekatan keluarga Ayah, Ibu, Nenek, Kakek, dan saudara-saudara itu perlu terjalin. Keterbukaan itu perlu dibina.
Tidak hanya itu dalam kehidupan dengan para sahabat pun kita tetap harus bermusyawarah jika terdapat ketidak sefahaman. Diskusikan dengan baik dan sopan pastinya. Jangan justru kita yang lemah ini membicarakan dia dibelakang [baca:seperti ghibah] yang justru menambah masalah baru.
Tidak hanya itu dengan bermusyawarah dapat menjernihkan pikiran bisa membuat kita belajar. Belajar bagaimana mengendalikan sebuah emosi dan menurunkan ego.
Ingat ‘Bahwa jangan sekali-sekali mengambil keputusan dalam keadaan marah dan jangan membuat janji disaat kita bahagia”- Ali Bin Abi Thalib
Jika musywarah ini telah dijalani, keputusan sudah diambil, maka ‘Bismillah’ serahkan semuanya pada Sang Pencipta, Sang pemilik keputusan.
Pertanyaannya? Sudahkah kita bermusyawarah dalam mengambil setiap keputusan? Yuk bermusywarah!

Ilustrasi sarungbiru.wordpress.com
Komentar
Posting Komentar