MOM, MOM AND MOM
Hangat dalam dekapanmu
memberikan aku ketenangan
Erat pelukmu, nikmatnya belaimu
takkan pernah terlupakan
O, o.. ibu, terimakasih untuk kasih sayang yang tak pernah usai
Tulus cintamu, takkan mampu untuk terbalaskan…
Ba’da baca salah satu novel karangannya Bang Tere Liye [Judul:Pulang] saya nggak sengaja mutarin MP3 lagunya UNGU yang judulnya IBU [Yang belum dengar bisa download di Stafaband ]. Alhasil, saya nggak bisa tertidur selepas dengerin lagu itu. Meski udah bolak-balik baca do’a, bolak-balik kanan-kiri, bolak-balik nutupin mata tetap saja hasilnya NIHIL.
Ngomongin tentang sosok seorang IBU, rasanya nggak ada habis-habisnya bahkan sampai pagi bertemu pagi dan malam ketemu malam [Boleh dicoba]. Sosok IBU, pasti punya porsi penting di hati kita.Sangat penting tentunya.
Kita boleh jadi tidak tahu sama sekali bagaimana IBU kita dulunya merawat kita. Tentulah, karena saat itu kita masih belum bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Kita belum bisa makan sendiri apalagi mandi sendiri [Ya nggak?]. Beliau dengan begitu telaten dan peduli bangun di tengah malam buat ngurusin kita ‘Si Bayi Mungil’.
Tidak hanya cukup sampai disitu, bahkan saat kita sudah beranjak dewasa, sosok IBU tetap sama hangatnya seperti dulu saat kita masih berstatus ‘Si Bayi Mungil’. Bahkan doa-doa beliau tak habis-habisnya untuk kita.
Tapi semua bisa berbanding terbalik dengan diri kita ‘ANAK’ [Nah, kok bisa]. Pernah kita mengingat, saat kita tumbuh dan mengenal dunia di sekitar kita, kita acap kali berkata ‘AH’ pada Beliau. Saat kita kemudian sudah beranjak remaja dan semakin dewasa, kita merasa bahwa kita lebih tahu segala hal dari beliau. Bahkan bisa jadi sikap dan ucapan kita pada beliau tak sehangat tangisan kita saat bayi.
Nah, ini kenapa setelah dengar lagu itu saya nggak bisa tidur. Pikiran saya kemudian melayang, pada sosok Mamak di rumah. Ribuan kilometer terpisah oleh bentangan luas biru laut Jawa rasanya cukup mengoyak-ngoyak rasa rindu yang meluap-luap ini.
Bagi saya, suara tawa di ujung telpon atau video call tak bisa sepenuhnya mengurai kerinduan kita pada sosok IBU. Bahkan meski ada teknologi dimensi yang bisa memunculkan aktivitas kita atau IBU kita di dinding KOS/Rumah toh tetap saja itu tidak akan cukup mengurangi rasa rindu.
Ini sebagai pesan untuk kita sebagai ‘ANAK’. Gunakanlah segala bentuk moment untuk terus berbakti pada ‘Kedua Orangtua’ sebaik mungkin. Karena itulah tugas kita sebagai ‘ANAK’.
Kita bisa bilang rindu pada mereka tapi justru kerinduan mereka jauhlah lebih besar pada kita, anaknya. Maka dimanapun kita berada, entah kita yang sedang di RANTAU, lakukanlah sebaik-baik amanah ‘KEPERCAYAAN’ yang mereka titipkan pada kita. Selesaikan segala yang semestinya diselesaikan atau kita yang berada dekat dengan mereka, berikan yang terbaik.
Betapa begitu beratinya sosok seorang IBU. Bahkan dalam hadist Nabi dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “ Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “ Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “ Ibumu!”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “ Bapakmu!”(H.R.Bukhari).
'Jika kau merasa tak ada yang peduli padamu, maka pulanglah. Peluk IBUMU'
Bagaimana anak rantau, sudah telpon IBU hari ini atau sudah menulis surat cinta untuk IBU? Kalau belum segera send SMS dan bilang ‘I LOVE YOU. Yuk merangkai kata untuk berkirim surat cinta untuk IBU seperti di hanisepti.blogspot.com

Sumber Foto : www.kabarmakkah.com
Komentar
Posting Komentar